Prospek Harga Nikel Global 2026: Indonesia Jadi Kunci Surplus Pasokan Dunia

Jumat, 13 Februari 2026 | 11:44:13 WIB
Prospek Harga Nikel Global 2026: Indonesia Jadi Kunci Surplus Pasokan Dunia

JAKARTA - Harga nikel mengalami pemulihan signifikan hingga akhir Januari 2026, diperdagangkan antara US$18.000-18.700 per metrik ton. Meski meningkat dibandingkan rata-rata 2025, level harga ini masih lebih rendah dibandingkan 2022, mencerminkan pasar yang sensitif terhadap pasokan dan ketidakpastian global.

Pemulihan Harga dan Kondisi Pasar

Harga rata-rata LME tiga bulan terakhir berada di kisaran US$18.705 per metrik ton, naik dari sekitar US$15.300 per metrik ton pada 2025. Pasar nikel merespons potensi disrupsi pasokan, terutama terkait kebijakan kuota pertambangan Indonesia dan ketersediaan bijih nikel global.

Pemulihan harga ini masih dianggap relatif moderat karena surplus pasokan global tetap ada. Hal ini menandakan bahwa sementara pasokan bisa terbatas oleh regulasi, tekanan harga jangka pendek tidak begitu tajam.

Prospek Pasokan Global

Berbagai lembaga riset memperkirakan pasar nikel global akan tetap surplus sepanjang 2026. Indonesia diperkirakan tetap menjadi pemasok utama, dengan kontribusi sekitar 60% dari produksi global, terutama untuk nikel pig iron dan investasi hilir terkait baterai.

International Nickel Study Group memproyeksikan produksi nikel primer global 2026 sebesar 4,085 juta ton, sementara penggunaan hanya 3,824 juta ton, menghasilkan surplus 261 ribu ton. Lembaga lain seperti ING Research, S&P Global, dan Nornickel memberikan proyeksi surplus serupa, menegaskan tren kelebihan pasokan.

Dominasi Indonesia terlihat dari pangsa pasar nikel mentah yang meningkat dari 34% pada 2020 menjadi lebih dari 50% pada 2023. Sementara pangsa pasar nikel olahan naik dari 23% menjadi 37%, memberi Indonesia pengaruh signifikan terhadap harga global.

Kebijakan Indonesia tahun 2026 memberi sinyal pemotongan kuota pertambangan menjadi 250–260 juta ton dari 379 juta ton tahun sebelumnya. Pasar menafsirkan ini sebagai potensi pembatasan pasokan, tetapi realisasi pengurangan produksi masih bergantung pada implementasi.

Dinamika Produksi di Luar Indonesia

Selain Indonesia, pasokan global sebagian besar stabil, meski produsen berbiaya tinggi seperti Australia menghadapi penutupan tambang dan pengurangan produksi. Upaya rasionalisasi produksi dilakukan, tetapi dampaknya terbatas karena produksi Indonesia relatif lebih efisien.

Ekspansi kapasitas nikel Indonesia dapat terus mengimbangi penurunan produksi di negara lain. Kondisi ini membuat pasar cenderung tidak ketat, meski ada gangguan pasokan lokal di luar Indonesia.

Prospek Permintaan Nikel

Permintaan nikel didorong terutama oleh baja tahan karat, yang tetap menjadi penggunaan utama. Produksi baja tahan karat global relatif stabil, dipimpin China dengan pertumbuhan sekitar 4,7% pada Januari–September 2025, sementara Eropa menurun 4,2% dan AS meningkat 9,3%.

Permintaan baja tahan karat memberikan dasar kuat bagi nikel, meski pola regional berbeda. China tetap menjadi pemain utama yang menentukan fluktuasi jangka pendek, sementara permintaan dari Eropa lebih lemah dan siklikal.

Pertumbuhan permintaan baterai untuk kendaraan listrik (EV) meningkat, tetapi pada 2026 diprediksi melambat dan bersifat tidak linier. China menguasai lebih dari separuh pertumbuhan penjualan EV global, sehingga dinamika permintaan nikel masih terfokus pada negara ini.

Meskipun pertumbuhan EV tinggi, penggunaan nikel per kendaraan menurun karena pergeseran ke baterai LFP. Hal ini membuat permintaan nikel dari sektor EV relatif stabil, bukan percepatan struktural yang signifikan.

Prospek Harga Jangka Pendek 2026

Harga nikel diperkirakan tetap fluktuatif namun cenderung tertekan sepanjang 2026. Surplus pasokan global, terutama dari ekspansi kapasitas Indonesia, menjadi faktor utama yang menekan harga.

Arah harga jangka pendek bergantung pada realisasi pembatasan pasokan Indonesia. Tanpa bukti pengurangan fisik atau penyerapan domestik dari hilirisasi, harga kemungkinan akan tetap di bawah tekanan surplus.

Harga acuan global diperkirakan tetap moderat, dengan Bank Dunia mematok sekitar US$15.500 per metrik ton. Goldman Sachs menilai harga bisa turun ke US$14.500 per metrik ton menjelang akhir 2026, mencerminkan kondisi pasar yang longgar.

Secara keseluruhan, meskipun permintaan dari baja tahan karat dan EV tetap mendukung, surplus pasokan global akan terus menjadi faktor dominan. Indonesia sebagai produsen utama memainkan peran kunci dalam menjaga keseimbangan pasar dan memengaruhi fluktuasi harga.

Pasar nikel global pada 2026 diperkirakan tetap stabil dengan tekanan harga moderat. Pelaku pasar dan investor perlu memperhatikan kebijakan pasokan Indonesia serta tren permintaan regional untuk menilai arah harga secara akurat.

Terkini