Dorong Efisiensi Logistik Nasional, Pelindo Terminal Petikemas Datangkan 39 Alat Bongkar Muat Baru 2026

Selasa, 10 Februari 2026 | 13:58:55 WIB
Dorong Efisiensi Logistik Nasional, Pelindo Terminal Petikemas Datangkan 39 Alat Bongkar Muat Baru 2026

JAKARTA - Lonjakan arus barang di berbagai pelabuhan nasional mendorong kebutuhan akan fasilitas bongkar muat yang semakin modern dan andal. Dalam merespons tantangan tersebut, PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) mengambil langkah strategis dengan mempercepat penguatan infrastruktur di sejumlah terminal utama.

Upaya ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menjaga kelancaran distribusi logistik nasional di tengah dinamika perdagangan yang terus berkembang. Dengan peningkatan kapasitas dan teknologi, diharapkan layanan kepelabuhanan mampu mengikuti kebutuhan industri secara berkelanjutan.

Sebagai anak usaha Pelindo, SPTP mengumumkan rencana pengadaan besar-besaran alat bongkar muat baru untuk seluruh Indonesia. Total sebanyak 39 unit alat akan didatangkan guna meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta keandalan layanan di terminal peti kemas strategis.

Pengadaan ini mencakup 13 unit Quay Container Crane (QCC) untuk area dermaga dan 26 unit Rubber Tyred Gantry (RTG) untuk lapangan penumpukan. Seluruh alat tersebut dalam kondisi baru dan dijadwalkan mulai tiba secara bertahap pada semester II 2026.

Langkah tersebut tidak hanya difokuskan pada pelabuhan utama, tetapi juga menyasar wilayah lain yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan logistik tinggi. Dengan strategi ini, SPTP berharap kualitas layanan dapat merata di seluruh wilayah operasional perusahaan.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menjelaskan bahwa investasi ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjawab tantangan industri logistik yang kian dinamis. Menurutnya, penguatan peralatan menjadi kunci untuk memastikan pelabuhan tetap kompetitif di tengah perubahan pasar global.

“Alat-alat baru ini akan ditempatkan di terminal utama seperti TPK Belawan, TPS Surabaya, dan TPK Semarang. Namun, kami juga menyasar wilayah lain seperti Lampung, Riau, Banjarmasin, hingga Kendari dan Kalimantan Barat untuk memastikan pemerataan kualitas layanan,” ujar Widyaswendra di Surabaya, Senin, 9 Februari 2026.

Dengan distribusi alat yang lebih merata, perusahaan menargetkan peningkatan kinerja operasional di berbagai titik strategis. Hal ini juga diharapkan dapat mengurangi potensi antrean kapal serta mempercepat waktu bongkar muat di pelabuhan.

Strategi Pengadaan Alat dan Optimalisasi Aset Terminal

Selain pengadaan alat baru, perusahaan juga melakukan optimalisasi aset melalui relokasi peralatan yang masih layak pakai ke terminal lain. Langkah ini dinilai efektif untuk menjaga keseimbangan kinerja operasional di seluruh jaringan terminal peti kemas.

Sebagai contoh, TPK Berlian akan mendapat tambahan dua unit QCC guna menjaga performa operasional. Relokasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memaksimalkan pemanfaatan aset sekaligus menekan biaya investasi yang tidak perlu.

Kombinasi antara pengadaan alat baru dan optimalisasi aset lama menunjukkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pengelolaan infrastruktur pelabuhan. Strategi ini memungkinkan perusahaan menjaga produktivitas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada investasi baru.

Langkah tersebut juga sejalan dengan upaya meningkatkan keandalan sistem logistik nasional secara keseluruhan. Dengan alat yang lebih modern dan distribusi yang merata, hambatan operasional di pelabuhan diharapkan dapat diminimalkan.

Modernisasi peralatan bongkar muat juga menjadi bagian dari transformasi layanan kepelabuhanan yang lebih terintegrasi. Dengan dukungan teknologi terbaru, terminal peti kemas dapat meningkatkan kecepatan, akurasi, serta keselamatan kerja.

Pengadaan 39 unit alat baru ini diproyeksikan memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas terminal. Waktu sandar kapal dapat ditekan, sementara throughput peti kemas berpotensi meningkat secara berkelanjutan.

Bagi pelaku industri logistik, langkah ini memberi sinyal positif terkait komitmen operator pelabuhan dalam mendukung kelancaran arus barang. Hal tersebut menjadi penting mengingat pertumbuhan perdagangan domestik dan internasional yang terus meningkat.

Dengan meningkatnya volume peti kemas, pelabuhan dituntut mampu menyesuaikan kapasitas layanan agar tidak menjadi bottleneck dalam rantai pasok. Investasi peralatan baru menjadi salah satu solusi konkret untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Keandalan fasilitas bongkar muat juga berpengaruh langsung terhadap biaya logistik nasional. Semakin efisien proses di pelabuhan, semakin besar potensi penghematan biaya bagi pelaku usaha dan konsumen akhir.

Oleh karena itu, penguatan infrastruktur pelabuhan melalui pengadaan QCC dan RTG baru ini dipandang sebagai langkah strategis dalam meningkatkan daya saing logistik Indonesia. Dampaknya diharapkan terasa tidak hanya di pusat ekonomi, tetapi juga di wilayah-wilayah berkembang.

Respons Pelaku Industri Terhadap Modernisasi Pelabuhan

Rencana modernisasi yang dilakukan SPTP mendapat sambutan positif dari berbagai pemangku kepentingan di sektor maritim dan logistik. Para pelaku industri menilai langkah ini sebagai kebutuhan mendesak di tengah pertumbuhan lalu lintas barang yang terus meningkat setiap tahun.

Ketua DPP INSA, Carmelita Hartoto, menekankan bahwa pembenahan infrastruktur pelabuhan merupakan keharusan agar distribusi logistik nasional dapat berjalan lebih optimal. Menurutnya, dukungan peralatan dan sistem operasi pelabuhan harus terus diperbarui agar mampu mengikuti dinamika perdagangan global.

“Dukungan peralatan dan sistem operasi pelabuhan harus terus diperbarui agar distribusi logistik nasional lebih optimal,” ungkap Carmelita. Ia menilai peningkatan kapasitas dan efisiensi pelabuhan akan berdampak langsung terhadap kelancaran rantai pasok nasional.

Senada dengan hal tersebut, Sekjen ALFI, Trismawan Sanjaya, menyoroti pentingnya integrasi teknologi dalam memangkas biaya logistik yang kompetitif. Ia menilai standardisasi layanan di seluruh wilayah kepulauan akan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Menurut Trismawan, modernisasi pelabuhan tidak hanya soal penambahan alat, tetapi juga integrasi sistem operasional yang lebih cerdas dan terhubung. Hal ini penting agar proses bongkar muat, pergudangan, hingga distribusi darat dapat berjalan lebih efisien.

Pandangan para pelaku industri tersebut mencerminkan tingginya harapan terhadap peningkatan kinerja terminal peti kemas. Dengan dukungan peralatan modern, pelabuhan diharapkan mampu memberikan layanan yang setara dengan standar internasional.

Modernisasi pelabuhan juga diyakini akan meningkatkan kepercayaan investor dan mitra dagang internasional. Infrastruktur yang andal menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kesiapan suatu negara sebagai pusat logistik regional.

Selain itu, peningkatan kapasitas pelabuhan juga berdampak pada penguatan konektivitas antarwilayah. Distribusi barang ke daerah terpencil diharapkan menjadi lebih lancar dan efisien dengan dukungan fasilitas bongkar muat yang memadai.

Langkah SPTP dalam mendatangkan alat baru juga dipandang sebagai sinyal kuat bahwa sektor kepelabuhanan nasional terus bergerak menuju modernisasi. Hal ini sejalan dengan agenda pemerintah dalam meningkatkan daya saing logistik nasional.

Dengan semakin kompleksnya rantai pasok global, pelabuhan dituntut mampu memberikan layanan yang cepat, aman, dan transparan. Investasi di bidang peralatan dan teknologi menjadi fondasi utama untuk mencapai tujuan tersebut.

Para pelaku usaha berharap modernisasi ini dapat menurunkan waktu tunggu kapal dan biaya operasional secara keseluruhan. Efisiensi tersebut pada akhirnya diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara lebih merata.

Peran SPTP dalam Penguatan Ekosistem Kepelabuhanan Nasional

Sejak integrasi Pelindo pada 2021, PT Pelindo Terminal Petikemas kini mengelola 32 terminal peti kemas di berbagai wilayah strategis Indonesia. Jaringan yang luas ini menjadikan SPTP sebagai salah satu pilar utama dalam sistem logistik nasional.

Dengan pengelolaan terminal di pelabuhan-pelabuhan utama dan wilayah berkembang, perusahaan memiliki peran penting dalam memastikan kelancaran arus barang domestik dan internasional. Oleh karena itu, peningkatan kualitas infrastruktur menjadi prioritas utama dalam strategi perusahaan.

Penambahan armada QCC dan RTG baru ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ekosistem kepelabuhanan yang lebih andal dan efisien. Dengan alat yang lebih modern, SPTP optimis dapat meningkatkan produktivitas serta memenuhi standar operasional internasional.

Langkah ini juga diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai hub logistik di kawasan Asia Tenggara. Pelabuhan yang efisien dan terintegrasi menjadi faktor kunci dalam menarik arus perdagangan dan investasi asing.

Selain meningkatkan kapasitas bongkar muat, modernisasi peralatan juga berkontribusi terhadap peningkatan keselamatan kerja di pelabuhan. Teknologi terbaru memungkinkan operasi yang lebih presisi dan mengurangi risiko kecelakaan di area kerja.

Dengan sistem yang lebih andal, waktu sandar kapal dapat ditekan sehingga perputaran armada menjadi lebih cepat. Hal ini berdampak langsung pada efisiensi biaya bagi operator pelayaran dan pemilik barang.

Penguatan infrastruktur pelabuhan juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam menurunkan biaya logistik nasional. Dengan rantai pasok yang lebih efisien, harga barang di pasar domestik diharapkan menjadi lebih kompetitif.

Terkini