Batu Bara

Dampak Penurunan Harga Batu Bara Global Periode Februari 2026 dan Kebijakan Impor China yang Mengejutkan Pasar

Dampak Penurunan Harga Batu Bara Global Periode Februari 2026 dan Kebijakan Impor China yang Mengejutkan Pasar
Dampak Penurunan Harga Batu Bara Global Periode Februari 2026 dan Kebijakan Impor China yang Mengejutkan Pasar

JAKARTA - Pasar batu bara global menunjukkan gejolak signifikan pada bulan Februari 2026 setelah harga komoditas energi ini mengalami penurunan tajam. Harga batu bara Newcastle untuk kontrak Februari turun ke level US$ 114,6 per ton, sementara kontrak Maret dan April juga mencatat penurunan masing‑masing ke US$ 116,25 dan US$ 116,2 per ton.

Penurunan yang terjadi di pasar batu bara ini seakan menandakan adanya penyesuaian besar dalam permintaan dan penawaran global. Pelemahan harga ini memberikan gambaran bahwa momentum permintaan dunia terhadap batu bara sebagai energi masih menghadapi tantangan besar.

Pemangkasan Proyeksi Impor China dan Dampaknya pada Harga

Salah satu faktor utama di balik tekanan harga batu bara adalah keputusan asosiasi industri batu bara utama China yang memangkas proyeksi impor untuk tahun 2026. China Coal Transportation and Distribution Association menurunkan perkiraan impor batu bara China dari sebelumnya 480 juta ton menjadi 465 juta ton.

Penurunan proyeksi impor ini mencerminkan perubahan strategi Beijing dalam mengelola kebutuhan energi domestiknya. Asosiasi juga memperkirakan produksi batu bara domestik China akan mencapai 4,86 miliar ton, melebihi rekor produksi tahun lalu, yang semakin memperkuat tekanan harga batu bara dunia.

Kebijakan ini pula menunjukkan pergeseran besar dalam preferensi energi China dari bergantung pada impor menuju meningkatkan produksi lokal. Dengan kemampuan produksi yang terus meningkat, China berpotensi mengurangi ketergantungan pada batu bara impor dan menjadikan pasar global lebih ketat.

Pergerakan Harga Batu Bara Rotterdam dan Tren Global

Tidak hanya pasar Newcastle yang merasakan tekanan, harga batu bara Rotterdam juga melemah pada periode yang sama. Untuk kontrak Februari harga turun ke sekitar US$ 101,7 per ton, sedangkan harga untuk bulan Maret dan April juga bergerak turun.

Penurunan harga di pasar Rotterdam menunjukkan bahwa tekanan harga bukan hanya terjadi di satu wilayah perdagangan saja. Tren ini memberikan indikasi bahwa permintaan global terhadap batu bara menghadapi tantangan yang cukup berat saat ini.

Koreksi harga di Rotterdam pun menyerupai tren di pasar Newcastle, di mana pembeli sangat memperhitungkan prospek impor dan kemampuan produksi lokal negara pengimpor besar. Volume permintaan yang menurun pada berbagai pasar regional memberi sinyal bahwa permintaan batu bara mengalami perlambatan di banyak penjuru dunia.

Peran Indonesia dan Pengaruh Kebijakan Pembatasan Ekspor

Indonesia sebagai eksportir batu bara termal terbesar dunia memberikan dampak besar terhadap pasar global melalui langkah pembatasan pengiriman batu bara. Langkah tersebut diambil demi menopang harga komoditas ketika permintaan impor dari negara utama seperti China mengalami penurunan.

Konsekuensi dari pembatasan ini adalah perubahan keseimbangan pasokan global, di mana kuota ekspor yang lebih ketat diharapkan akan membantu stabilisasi harga. Meskipun demikian, tekanan dari sisi impor yang melemah tetap menahan laju kenaikan harga di pasar internasional.

Strategi yang diambil Indonesia ini menunjukkan bahwa negara produsen utama tidak hanya dianggap sebagai pemain pasif di pasar. Keputusan‑keputusan kebijakan yang dibuat oleh eksportir besar dapat langsung memengaruhi harga batu bara dunia secara real time, baik dalam jangka pendek maupun menengah.

Reaksi Pasar Terhadap Penurunan Harga dan Prospek Permintaan

Penurunan harga batu bara bukan hanya disebabkan pemangkasan proyeksi impor China, tetapi juga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap penurunan permintaan global. Pasar mengindikasikan bahwa ketika pembeli besar menahan impor, harga batu bara akan mengalami gerakan turun seiring kelebihan pasokan relatif terhadap permintaan saat ini.

Tren ini terlihat jelas ketika harga kontrak berjangka tidak lagi menunjukkan kenaikan signifikan di tengah proyeksi permintaan yang direvisi. Investor dan pelaku pasar memperhatikan faktor‑faktor fundamental ini sebagai indikator bahwa batu bara masih berada dalam fase koreksi pasca periode lonjakan harga sebelumnya.

Prospek harga batu bara selanjutnya diprediksi akan sangat bergantung pada kemampuan negara pengimpor untuk menyeimbangkan produksi domestik mereka. Jika produksi lokal mampu memenuhi kebutuhan tanpa mengandalkan impor, tekanan harga kemungkinan akan terus berlangsung.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index